Kenikmatan Surga Bagi Wanita

Surga dalam bahasa Arab disebut jannah. Kosakata dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf jim dan nun dengan berbagai bentuknya memiliki pengertian benda atau sesuatu yang tersembunyi: Surga yang dijanjikan Allah

Kenikmatan Surga Bagi Wanita

Hati kita juga disebut al-janan karena ia merupakan sesuatu yang tertutup oleh dada. Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut demikian karena pikiran dan lintasan hati yang dimilikinya tertutup dan tidak terlihat. Dengan demikian, segala yang tidak tampak oleh pandangan mata, atau tersembunyi, disebut sebagaijanan.ltu pula sebabnya, kuburan disebutjunan karena ia menutupi orang yang dikubur di dalamnya.

AI-janin (janin) disebut demikian karena ketersembu-nyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang berbunyi, Dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu (QS AI-Najm [53]: 32).

Termasuk dalam kategori ini adalah ucapan Nabi Saw. yang mengatakan, "Puasa itu adalah junnah (perisai)." Dan, penjelasan Utsman ibn Abi AI-Ash terhadap kata junnah yang berbunyi, "Puasa itu adalahjunnah (perisai) sepertijunnah kalian dalam peperangan: Karena, puasa menutupi pelakunya dari syahwat dan nafsu. Demikian tulis Mutawalli AI-Syarawi.

Begitu banyak kenikmatan yang didapat di dalam surga kelak, seperti diberi buah-buahan, kekekalan hidup, sungai-sungai yang mengalir, dan sebagainya, Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik bahwa bagi mereka disediakan surga - surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan me-reka kekal di dalamnya (QS AI-Baqarah [2]: 25).

Maka, AI/ah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Maidah [5]: 85)

Bahkan, para penghuni surga pun dari hari ke hari semakin bertambah cantik dan tampan, dengan pakaian yang juga semakin indah. Dari Anas ibn Malik r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Di dalam surga terdapat sebuah pasar yang didatangi penduduk surga setiap hari Jumat. Angin bertiup dari sebelah kanan menyentuh muka dan pakaian mereka, menyebabkan muka dan pakaiannya bertambah cantik/tampan dan indah. Ketika mereka pulang ke rumah, didapatinya istri mereka bertambah cantik dan indah. Kata mereka kepada istrinya, Engkau sungguh-sungguh tambah cantik dan pakaianmu tambah indah sepeninggalku. Jawab istrinya, Engkau, demi AI/ah, sungguh tambah tampan dan pakaianmu tambah indah pula sekembalimu" (HR Musiim).

Mengenai pakaian para penghuni surga, beberapa ayat dalam AI-Quran menginformasikan hal tersebut, Me-reka itulah yang memperoleh Surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedangkan mereka duduk sambil bersandar di atas ranjang-ranjang yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah (QS Al-Kahf [18]: 31).

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang ber-iman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Oi surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra. (QS Al-Hajj [22]: 23)

Mereka berpakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci). (QS AI-Insan [76]: 21)

Sedemikian bersihnya surga, para penghuninya pun tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan najis dan kotoran, kendati mereka makan dan minum di dalamnya. Dari Jabir r.a. bahwa ia mendengar Nabi Saw. bersabda, "Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum di da-lamnya. Tetapi mereka tidak meludah, tidak kencing, tidak buang air besar, dan tidak membuang ingus." Para sahabat bertanya, "Bagaimana makanan yang mereka makan?" Jawab beliau, "Keluar dari sendawa yang baunya harum seperti bau kesturi. Mereka selalu membaca tasbih dan tahmid sebanyak tarikan napas kalian" (HR Muslim).

Sebagai bentuk penghormatan kepada para peng-huni surga, kelak Allah Swt. akan mengucapkan salam ke-pada mereka, Penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin) pada hari mereka menemUi-Nya ialah, "Salam," dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka (QS AI-Ahzab [33]: 44).

(Kepada mereka dikatakan), "Salam," sebagai bentuk ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS Y{j Sin [36]: 58)

Bagi siapa surga dan segala kenikmatannya tersebut diperuntukkan? Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Swt. memberitahukan hal tersebut. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Allah Taala berfirman Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh segala kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, bahkan belum pernah tergambar dalam hati sanubari manusia. Sesuai dengan firman Allah Taala di dalam kitab-Nya yang mulia, Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (yaitu, segala macam kenikmatan) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" (QS AI-Sajdah [32]: 17) (HR Muslim).

Terlihat bahwa surga disediakan bagi hamba-ham-ba-Nya yang saleh. Kata "hamba" bersifat umum, men-cakup pria dan wanita. Pengertian ini sejalan dengan firman-Nya, Barang siapa mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedangkan ia orang yang ber-iman, mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikit pun (QS AI-Nisa [4]: 124).

Adapun bagi wanita, ciri wanita yang salehah terda-pat dalam ayat, Wanita yang salehah ialah yang taat kepada Allah lagi menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (QS AI-Nisa [4]: 34).

Menurut Imam AI-Thabari, al-sMliflat adalah,"orang yang bersikap istiqamah dalam agama dan berbuat ke-baikan: Benarlah apa yang ia katakan karena tidak ada kebaikan tanpa sikap istiqamah dalam agama. Selain itu, suatu kebaikan tanpa perbuatan baik atau usaha untuk mengamalkannya hanya akan dinilai sebagai kebaikan yang cacat.

Adapun kata qanitat terambil dari kata al-qunut, yang maknanya antara lain ketaatan permanen kepada Allah. Dari kata ini, muncul istilah ourust yang biasa kita lakukan dan di dalamnya kita berdoa dan berdiri selama mungkin. Wanita yang taat kepada Allah, ia tunduk di hadapan Allah. Tunduk di hadapan Allah, artinya ia meng-ikuti manhaj Allah. Demikian tulis Mutawalli AI-Syarawi.

AI-Wahidi r.a. berkata, "At-qunut: berarti ketaatan yang bersifat umum, yaitu ketaatan kepada Allah dan kepada suami:

Makna ini dapat merujuk kepada wanita yang sudah menikah atau belum. Jika belum menikah, ia akan senantiasa taat dan istiqamah kepada Allah. Adapun jika ia sudah menikah, ketaatannya ditambah dengan ketaatan kepada suami. Jadi, taat kepada Allah, juga taat kepada suami. Adapun makna, flafizhat li at-qhaib adalah mereka selalu menjaga diri ketika suaminya tidak ada. Misalnya, pertama, menjaga diri dari perbuatan zina sehingga suami tidak memperoleh aib karena perzinaan istrinya. Kedua, menjaga harta suami dari pembelanjaan yang kurang bermanfaat dan berlebihan. Ketiga, menjaga rumah dari hal-hal yang tidak semestinya. Rasulullah Saw. bersabda, "Sebaik-baik wanita adalah istri yang jika kamu melihatnya, ia akan membahagiakanmu; jika kamu menyuruhnya, ia akan menaatinya; dan jika kamu pergi, ia akan menjaga harta dan harga dirimu." Kemudian, beliau membaca ayat AI-Nisa (4): 34 tadi.

Jika kita lihat makna al-sMliflatdan qanitattersebut, tampak sedemikian dalam maknanya. Sudah disebutkan al-sMliflatditambah qanitat, sehingga dapat disimpulkan bahwa ketaatan tidak hanya pada hal-hai yang besar, tapi juga sampai hal-hal yang kecil. Yang demikian meng-haruskan seorang wanita melihat lslam dari berbagai aspeknya. Tidak hanya melihat aspek ibadah, tetapi melupakan aspek akhlak. Tidak hanya melakukan ibadah wajib, tetapi melupakan ibadah sunnah, demikian seterusnya. Tentu, ketaatan tersebut pada hakikatnya dapat diraih dengan melakukan amalan-amalan yang dapat mendorong kecintaan Allah SWT.[]

dikutip dari buku Wanita yang Merindukan Surga
Karya M. Fauzi Rachman
Previous
Next Post »